‘Sandwich’ dengan Selera Lokal

JANGAN buru-buru bilang kalau orang Italia, sebagaimana bangsa Eropa lainnya terbiasa dengan makanan bercitarasa tinggi dipadu proses memasak yang ribet. Ternyata, mereka juga menggemari makanan-makanan serbapraktis namun tentu saja dengan rasa yang optimal.

Tak beda dengan penduduk negeri Paman Sam yang tergila-gila dengan sandwich alias roti lapis karena kepraktisan, kelengkapan gizi dan tentu saja rasa yang ditawarkan, warga Italia juga suka dengan makanan jenis ini.

Tentu saja bukan cuma namanya yang berbeda, tapi juga sensasi yang ditawarkan. Mereka memanggil menu kesayangan hampir setiap keluarga Italia itu dengan panino, dalam konteks tunggal atau panini jika menyebutnya dalam jumlah lebih dari satu.

Pembeda lainnya adalah si aktor utamanya. Orang Italia gemar dengan roti dengan tekstur yang lebih keras. Bahkan, salah satu jenis roti yang dipakai dalam sajian panini, ciabata, memiliki tekstur paling keras.

Selain Ciabata, juga dikenal rosetta, roti yang teksturnya lebih lembut. Keduanya berukuran besar, kemudian dipotong-potong dalam ukuran yang diinginkan si pelahapnya. Campuran berikutnya, mentega, tomat dan selada atau sayuran jenis lain serta filling utamanya, bisa daging asap, keju, fillet ikan dan beragam opsi lainnya.

Awalnya, kata Maria Andyta, Executive manager Food and Beverage Retail Panini House, menu ini lebih dulu populer di penduduk pedesaan Italia. Mereka memakannya saat sarapan, makan siang, juga di malam hari.

“Mungkin mereka suka dengan kepraktisannya juga rasa dan komponennya yang lengkap, bisa jadi mirip pizza. Tapi, jelas memasaknya tidak seribet pizza. Nah, warga kota-kota besar di Italia, termasuk di Roma, kemudian mengadopsi menu ini dan jadilah panini mendunia, termasuk di Indonesia,” kata Dyta saap akrab Andyta.

Kalau soal isian, panini memang tampak bersaudara dengan sandwich. Tapi, ada pembeda rasa yang menurut Maria Andyta, harus langsung dirasakan lidah sebagai hakim yang paling jujur.

Maka, tersuguhlah Panini Bbq chiken di depan kami. Wujudnya mirip potongan roti prancis yang dalam bentuk utuh bisa mencapai satu meter. Roti bersemu coklat itu telah dipotong untuk empat hingga lima kali gigitan. Tidak garing dan beremah, tapi padat berisi dengan kelembutan yang pas.

Ada tanda garis-garis coklat tua di sekeliling tubuh roti, penanda telah ditekan kuat oleh panini grill yang berjasa membuat semua rasa isi roti berpadu sempurna. “Ya, karena tektur panini ini kami sesuaikan dengan lidah lokal penduduk Indonesia yang memang lebih suka pada tekstur roti yang lembut, jika digigit langsung kempes. Tapi, tentu saja, panini kita tidak selembek itu, kelembutannya kami usahakan pas, setelah digigit dia akan kembali ke bentuk semula,” ujar Dyta lagi.

Kejutan berikutnya ada pada kunyahan pertama. Rotinya sendiri jelas mantap, berpadu dengan irisan tipis terong ungu dan potongan ayam berbumbu barbekue. Pelapis rotinya pun bukan mayones, namun ulasan mentega.

Dyta dan timnya boleh lega, karena walaupun panini kreasi mereka telah disesuaikan dengan selera lokal, nyatanya lima outlet yang telah mereka buka di Jakarta sejak 2008 lalu, tak hanya jadi favorit warga lokal yang gemar citarasa Italia atau para petualang kuliner yang hobi mengeksplorasi menu resto-resto, tapi juga para ekspatriat Italia.

“Seru juga melihat mereka suka dengan panini kita, sekali datang mereka bisa habis beberapa potong,” kata Dyta sumringah.
Kini, para pemburu panini bisa terpuaskan dengan pilihan empat menu lainnya yaitu panini daging ayam asap, pastrami daging sapi yang jadi unggulan resto ini serta rib eye mozarella.

Tapi, jangan buru-buru menutup order, sajian lain resto yang memasang harga Rp20 ribu hingga Rp60 ribu per menu ini, juga sangat layak dicoba.

Jika saat dibuka resto ini cuma menyediakan panini dan kopi, kini ada banyak menu Italia juga makanan fusion Italiano, Asia juga berbalut kuliner lokal yang disajikan. Buat pembuka ada oriental fusion salad dengan saos kacang segar bertabur
kulit pangsit goreng yang renyah. Tak butuh waktu lama, dijamin piring Anda bersih sempurna.

Buat pendamping panini, ada juga fettucini smoked salmon black olive. Gurihnya mantap, buat Anda yang tengah menghindari karbohidrat berlebih, sebaiknya hati-hati, karena tanpa terasa, pasta langsing ini tahu-tahu telah beralih dari piring ke perut Anda.

Coba juga petto di pollo, menu baru Panini House. Potongan daging ayam melingkari daging sapi asam dan lapisan keju di tengahnya. Digulung lalu disiram krim jamur champignon yang super krimi. Selamat datang di kelezatan dan kehangatan rumah Panini!

Referensi  : mediaindonesia
Lihat juga : pizza hut, burger

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s